
Judul Buku : Gajah : Kusimpan Seuntai Kenangan Abadi Tentangmu
Judul Asli : Khokkiri (코끼리 )
Penulis : Lia Indra Andriana
Penerbit : Haru
Tahun Terbit : 2011
ISBN :978-602-98325-1-8
Tebal : 308 halaman
Becca. Adriel Jo. Richard. Della. TOP. Lucie.
Penulis. Fotografer. Dokter. Penerjemah. Blogger.
Teman. Saudara. Kekasih. Tunangan.
Jika SeoulMate memiliki kambing sebagai simbol cerita, maka Khokkiri, novel ke 12 Lia Indra Andriana kali ini mengusung gajah sebagai simbol. Gajah, kenapa gajah?karena ternyata simbol gajah memiliki makna mendalam dari keseluruhan cerita.
Gajah yang merupakan mamalia darat terbesar di dunia itu,ternyata memiliki fakta unik berupa kemampuan daya ingat yang kuat. Hewan ini memiliki tengkorak besar dan kuat sehingga mampu mengingat perintah – perintah yang diajarkan dan jarang melupakannya. Tidak mengherankan kalau banyak yang setuju dengan pendapat kalau gajah adalah hewan dengan ingatan paling baik sedunia.
Oleh karena fakta daya ingat ini jugalah yang menjadikan gajah sebagai simbol pengingat dari sebuah bingkai cerita cinta yang berlandaskan kenangan, Khokkiri. Dimulai dari kehadiran Adriel Jo ( Jo Ji Ho), seorang pemuda Korea yang tinggal dan bekerja di biro periklanan Indonesia. Ia jatuh hati pada Rebecca, gadis pendiam dan penakut yang merupakan salah seorang staf kantornya. Hubungan mereka berdua semakin dekat ketika curhatan-curhatan Becca tentang Adriel di blognya dibaca dan ditanggapi sendiri oleh Adriel. Mereka berdua pun lalu menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih selayaknya manusia normal lainnya.
Disisi lain, ada pula hubungan sepasang kekasih yang telah bertunangan, Richard dan Della yang terbilang harmonis. Richard, seorang pria dewasa tiga puluhan tahun yang berprofesi sebagai seorang dokter sekaligus kakak tiri Adriel. Richard begitu mencintai kekasihnya Idella, gadis yang berprofesi sebagai penerjemah sukses dan memiliki kepribadian yang tegas dan percaya diri,bertolak belakang dengan kepribadian Rebecca.
Dua pasang kekasih ini menjalin hubungan asmara tanpa saling bersinggungan satu sama lain. Hingga pada suatu ketika, Della merasa sering kehilangan waktu, ia bertingkah aneh dengan kebiasaannya Sleepwalking dan menghilang secara tiba-tiba dari kehidupan Richard. Mengetahui hal itu, Richard sontak menjadi bingung dan hilang arah. Ia mencoba mencari tahu keberadaan Della . Ditengah pencariannya, ia menemukan fakta mengejutkan bahwa Della pernah mengalami kecelakaan di Korea dan kehilangan saudara kembarnya Rebecca.
Tak mau tinggal diam dengan keadaan ini, Richard segera menyusul ke Korea dan mengetahui fakta yang lebih mengejutkannya disana. Fakta yang mampu menjungkirbalikan kehidupan Richard dan hal-hal yang selama ini ia percayai tentang Della. Saat kejadian naas itu, disinyalir bahwa korban tewas itu adalah Becca, sementara Della selamat. Tapi, tak lama kemudian Della berubah dan menunjukkan sikap seperti Becca. Della bahkan mengaku bahwa dirinya adalah Becca, karena ikatan batin yang begitu kuat di antara mereka.
Disamping itu,di Indonesia, keinginan baik Adriel untuk mempertemukan Becca dengan Richard malah membuahkan konflik dimana Richard menganggap Becca adalah Della sedangkan Adriel menggangap sebaliknya. Pertemuan itu pun akhirnya menjadi titik balik perseteruan antar kedua saudara tiri berbeda kebangsaan itu.
Kemudian,baik Adriel maupun Richard terpaksa memandang dua gadis,dua cinta,dalam satu tubuh yang sama. Resiko cinta yang tak pernah terlintas dalam benak mereka. Tak ada yang ingin percaya pada kenyataan bahwa salah satu diantara gadis yang mereka cintai adalah saudara kembar yang telah meninggal dunia. Bagaimanapun juga, tak ada yang ingin mengalah.
Hadirnya tokoh bernama Lucie, si gadis malam yang liar. Apa hubungan Lucie dengan Della dan Becca? Ternyata Lucie adalah pribadi ke-3 di antara Della dan Becca. Mungkin tokoh tersebut sengaja dimunculkan di awal-awal bab kemudian dilupakan seiring cerita, karena dia adalah pribadi kunci yang mengungkap masa lalu Della, berikut penyebab mengapa Della mengalami benturan jiwa. Kedatangan Lucie yang tiba-tiba pun juga semakin memperumit keadaan. Gadis itu menyelinap dan membangun kisahnya sendiri sambil menertawakan kisah cinta, ambisi, dan keberadaan Adriel-Becca-Richard-Della sebagai suatu tontonan yang lucu. Tapi, biarpun begitu, sama seperti yang lainnya, ia pun ingin dikenang.
Meski ego mereka bersikeras tak ingin dilupakan, namun kenyataan bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan memori dan ketika salah satu dari mereka harus menghilang dari kehidupan orang terdekatnya, semua memori yang telah dirajut dan disimpan seolah tidak pernah ada.
Lalu bagaimana kisah cinta yang teramat kompleks ini berakhir? Apakah mereka berlima mampu meyakinkan diri bahwa diantara mereka pada akhirnya ditakdirkan untuk bertemu, tersingkir serta rela menjadi hanya sebatas kenangan semata? Adakah jalan bagi memori itu untuk kembali?
Benarkah memori yang tersimpan itu tidak akan pernah pudar seperti janji setia yang mereka ucapkan?
Ini adalah novel yang sukses yang kompleks dan cenderung berat dibandingkan novel Lia yang sebelumnya. Tapi itulah sisi menariknya. Setiap karakter dan kisahnya di sepertiga awal disusun seperti puzzle hingga seolah-olah mengajak pembaca untuk berpikir,mengolah,dan menghubung-hubungkan rentetan peristiwa yang terjadi hingga mencapai kesimpulan yang memuaskan.
Begitupun juga dengan Topik D.I.D (Dissociative Identity Disorder) atau kepribadian ganda yang diangkat mampu dikemas dengan apik selama alur cerita berlangsung. Jarang ditemui penulis yang mau menggali hal-hal berbau medis dalam novelnya dan apa yang Lia lakukan di novel ke 12 nya yang tetap berbau Korea ini adalah suatu kemajuan besar. Selain itu, penempatan bagian dan perpindahan para alter ego nya pun sesuai pada komposisi yang tepat meskipun kelemahannya pada awal cerita mungkin pembaca akan dibuat bingung dengan kehadiran tokoh bernama Lucie dan kurangnya pendeskripsian asal muasal alter Lady Vampire yang muncul dipertengahan cerita. Siapa sebenarnya Lady Vampire? kenapa dia muncul? tak ada jawaban pasti.
Hal ini menyulitkan pembaca untuk memahami cerita, karena setiap tokoh yang dimunculkan tidak langsung menunjukkan posisi dan perannya dalam cerita.
Namun demikian, hal-hal tersebut juga membawa manfaat. Cerita menjadi semakin misterius dan sulit untuk ditebak.
Novel ini amat cocok untuk dibaca oleh orang yang suka berpikir aktif dan menyenangi hal-hal yang misterius. Sebaliknya, sangat tidak cocok bagi penggemar cerita-cerita ringan untuk membaca novel ini. Sebab novel ini banyak menuntut pembaca untuk memutar otak mengenai peran tokoh cerita di awal kemunculan, maupun di akhir cerita. Selain itu, tokoh yang cukup banyak menuntut pembaca untuk memiliki ingatan yang baik. Karena bila tidak, kita harus membolak-balik halaman demi halaman untuk mencari tahu apa yang telah dikerjakan oleh seorang tokoh sebelum terjadinya suatu tragedi. Apapun kekurangannya, novel ini mampu melatih pikiran pembaca untuk menjadi aktif dan kritis, serta teliti dalam menganalisis suatu informasi.
